Faktor risiko diabetes melitus bisa terjadi pada siapa saja dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Orang yang mempunyai risiko tinggi untuk terkena diabetes harus berusaha untuk mencegahnya.

Faktor risiko penyakit diabetes melitus cukup beragam. Kebanyakan, faktor risiko ini disebabkan oleh gaya hidup dan berbagai faktor lingkungan lainnya. Faktor lain yang bisa menjadi pemicu adalah faktor genetik atau keturunan.

Salah satu cara yang terbaik untuk memonitor perkembangan kesehatan adalah dengan memeriksakan diri secara rutin. Dalam hal ini adalah memeriksakan kadar gula secara rutin.

Bahan konsumsi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Ketika bahan makanan yang dikonsumsi kurang baik, maka akan mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan penyakit.

Beberapa Faktor risiko diabetes melitus

• Kelebihan berat badan

Berat badan berlebih sering menjadi masalah psikososial atau hal yang mempengaruhi psikologi bersosial. Namun, jauh dari itu ternyata obesitas mempengaruhi kesehatan. Banyak penyakit berbahaya yang difaktori oleh berat badan berlebih. Salah satu penyakit yang sering disebabkan oleh kelebihan berat badan adalah diabetes melitus.

Faktanya, ada lebih dari 80% penderita diabetes tipe 2 memiliki berat badan berlebih. Pada badan yang berlebih, lemak akan menumpuk. Penumpukan lemak ini menjadi kendala yang dapat menutup reseptor. Jika reseptor tertutup lemak, maka insulin tidak mampu mengangkut gula dari darah ke sel tubuh.

• Faktor usia

Semua golongan usia bisa saja menderita diabetes. Baik itu diabetes tipe 1 maupun tipe 2. Namun, secara umum penderita diabetes tipe 1 dan 2 mempunyai golongan-golongan usia tertentu. Penderita diabetes tipe 1 biasanya didominasi oleh anak-anak dan remaja. Kebanyakan, penderita tersebut berusia kurang dari 30 tahun. Sedangkan penderita diabetes tipe 2 didominasi oleh orang-orang dewasa. Umumnya, usia mereka di atas 40 tahun.

Beberapa kelompok usia yang berada pada faktor risiko diabetes melitus harus lebih mampu menjaga kesehatannya. Perubahan pola makan dan olahraga harus benar-benar diperhatikan dengan sangat baik.

• Faktor keturunan atau genetika

Orang tua yang mengidap diabetes akan menurunkan resiko tersebut kepada anaknya. Jika ada anggota keluarga atau orang tua yang mengidap diabetes melitus, maka orang tersebut mempunyai resiko 6 kali dari orang biasa. Gaya hidup sehat yang dimulai sedini mungkin bisa menekan faktor risiko ini. Selain itu, sebisa mungkin untuk menghindari obesitas. Jika seseorang yang sudah berisiko 6 kali ditambah dengan faktor risiko obesitas, maka akan semakin rentan terkena diabetes.

• Etnis atau ras

Tempat tinggal dan ras ternyata berpengaruh juga pada diabetes. Beberapa ras di dunia ini lebih berisiko terkena diabetes ketimbang dengan ras lainnya. Beberapa ras yang lebih berisiko di antaranya Afrika, Asia, Hispanik dan penduduk yang mendiami pulau-pulau di Pasifik. Beberapa kelompok ras ini lebih berisiko terkena diabetes melitus tipe 2.

Ras populasi Finlandia berisiko tinggi mengidap diabetes melitus tipe 1. Tercatat, persentase penderita diabetes tipe 1 adalah mencapai 40% dari total populasi. Sedangkan beberapa negara seperti Skotlandia, Norwegia, Denmark, Swedia dan Irlandia penderitanya mencapai 20% dari total populasi.

Sebagai orang Indonesia, tentu kita juga berisiko terkena diabetes. Kita berada pada golongan ras Asia. Namun, dengan menjalankan gaya hidup sehat dan olahraga teratur, kita bisa mencegah mengidap penyakit tersebut.

• Kurangnya olahraga

Sering dibahas dalam berbagai pembicaraan medis bahwa olahraga merupakan salah satu cara untuk sehat. Melakukan olahraga secara teratur merupakan sebuah keharusan. Ketika kita berolahraga, maka organ-organ dalam tubuh akan terpacu. Jantung adalah organ yang paling penting karena kinerja organ lain bisa dikatakan tergantung pada jantung.

Orang yang kurang berolahraga cenderung tambun dan terjadi penumpukan lemak pada tubuhnya. Lemak yang tertimbun tersebut bisa menyebabkan berbagai kendala, salah satunya tertutupnya reseptor. Jika reseptor tertutup lemak, maka insulin tidak dapat mengangkut gula dari darah ke sel.

• Menderita penyakit yang lain

Penyakit yang lain bisa dikatakan sebagai faktor risiko diabetes melitus. Diabetes yang seperti ini disebut juga sebagai diabetes sekunder. Penyakit-penyakit berat tersebut mempunyai pengaruh untuk memperburuk kinerja insulin. Jika insulin tidak mampu bekerja dengan baik, maka gula darah akan mengalami kenaikan. Beberapa penyakit tersebut antara lain jantung, hipertensi dan stroke.

• Menderita metabolic syndrome

Keadaan metabolic syndrome merupakan salah satu faktor risiko penyakit diabetes melitus. Keadaan ini terjadi dimana seseorang mempunyai tekanan darah yang tinggi, di atas 160/90 mmHg. Trigliserida berada di atas 150 mg/dl, koleterol baik atau HDL kurang dari 40 mg/dl, obesitas dengan lingkar pinggang 88 Cm pada wanita dan 120 Cm pada pria. Beberapa keadaan ini harus segera mendapatkan kontrol yang ketat. Tensi darah harus diturunkan dengan obat-obatan khusus. Selain itu, kolesterol dan berat badan juga harus diturunkan. Cara yang paling efektif untuk menurunkan berat badan adalah dengan mengubah bahan konsumsi dan berolahraga secara teratur.

• Mengalami diabetes saat masa kehamilan

Diabetes saat masa kehamilan disebut juga diabetes gestasional. Diabetes ini hanya terjadi pada ibu hamil dan setelah persalinan diabetes ini sembuh. Namun, ternyata wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.

50% wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional, di kemudian hari mengalami diabetes melitus tipe 2. Pentingnya cara mengobati diabetes kering dan gaya hidup yang sehat akan membantu menekan faktor risiko diabetes melitus yang satu ini dikemudian hari.

• Terjadi infeksi di pankreas

Infeksi pada pankreas tentu akan merusak bagian-bagian dari pankreas tersebut. Sedangkan kita tahu bahwa pankreas merupakan sebuah mesin produksi insulin. Insulin digunakan sebagai pengangkut gula dari darah ke dalam sel-sel tubuh.

 

 

 

Fokus pada faktor risiko

Banyak orang yang terkena diabetes tidak sadar bahwa dirinya memang mengidap diabetes. Akhirnya, mereka tidak melakukan langkah-langkah pengendalian. Pada akhirnya, mereka tidak tahu seberapa parah mereka mengidap penyakit tersebut.

Sebaiknya, setiap orang tidak terpaku pada gejala. Gejala kadang tidak muncul pada beberapa kasus diabetes. Sebaiknya, setiap orang fokus pada faktor risiko penyakit diabetes melitus yang dimiliki.